sedikit mencoret layar .. teman aku kembali ingin bercerita.
Aku sedikit tidak mengerti apa yang dianggap pantas dan tidak pantas dalam hidupku. Aku sempat mengira-ngira kelak dia benar pangeranku. Entahlah .. kurasa ku salah !
Saat ini bintang ku tidak bersinar seperti biasanya. Dia mulai redup dan bila ku tatap luasnya kegelapan di langit semakin hari sinarnya berkurang semakin menjauh dan hilang dari hatiku. Apakah karena musim penghujan akan tiba? Seperti biasa berpikir positif dan memastikan itu benar.
Aku merasa kecewa. Sangaaaaat kecewa. Ketika semakin hari bintang-bintang itu memaksa pergi dan tidak lagi menghiasi hariku juga menerangi hatiku.
Tolong! Jangan paksa aku meneteskan air mata itu lagi. Aku cukup kuat dan aku yakin aku bisa melewatinya. Masih merasakan hal yang sama dan tetap seperti itu. KECEWA
Senin, 28 Oktober 2013
::::::
Minggu, 06 Oktober 2013
Seutuhnya Bahagiaku
Seutuhnya Bahagiaku
Oleh Mustika Purnamasari
Tak tahu apa yang harus ku lakukan tanpa dia
Ketika dunia mulai menerimaku utk menyaksikan keindahannya
Ketika dunia mengizinkan meletakkan ragaku seutuhnya
Suratan-Mu Tuhan
Telah pertemukan aku dengannya
Melukiskan keharuan, membangun tangisan bahagia
Bilangan air matanya tanda kesykuran atas hadirku
Ketika perjuangannya mengandungku
Ketika harapan besar mempertaruhkan nyawa
Di balik tangis kesakitan hingga keringat yang bercucuran dia masih memilihku di sebuah subuh penuh kenangan
Atas takdir seorang ibu
Tak pernah lelah melontarkan huruf a samapai z hinggah aku mengerti 1+1 = 2
Ketika dia harus bangun di kegelapan malam karena aku merengek kehausan
Dia tak pernah marah ketika tak sengaja aku berkata kasar
Aku tau di balik senyumnya tersimpan letih
Dia tak pernah mengizinkan air mataku mengalir di pipi
Ketika caci maki mengampirinya, kekecewaan mulai terasa aku tau dia menyimpan tangis karenaku
Dia tidak pernah menyerah begitu saja demi masa depanku
Ibu
Kau yang pertama ku cari saat aku kehilangan arah
Kau tempat pertama yang ku tujuh saat aku berlari ketakutan
Kau tempat aku menangis saat aku terjatuh
Kau orang pertama yang menggendongku ketika kerikil kerikil tajam mulai ku lalui
Bahumu tempat sandaran pertama ku ketika dia dan mereka menyakitiku
Dan namamu yang pertama ku sebut ketika semua orang bertanya siapa emasku
Dan tetap engkau yang pertama ku sebut ketika toga ku hempas ke langit
Maafkan aku ibu ketika kau harus melawan kejamnya malam itu
Maafkan aku ibu ketika aku mulai mencampakanmu
Maafkan aku ibu ketika air mata di pipimu mengalir karena ku
Maafkan aku ibu ketika aku tak sanggup memberikan bahagia seutuhnya untukmu
Maafkan aku ibu ketika aku melupakanmu karena dia dan mereka
Maafkan aku ibu ketika cinta mulai ku bagi
Dan maafkan aku ibu ketika kau tak mendapatkan ketulusan dariku
Aku tahu bukan kumpulan berlian yang kau harap dari kesuksesanku
Bukan seikat uang dari keberhasilanku
Bukan ratusan medali dari prestasiku
Tapi keinginanmu adalah seutuhnya bahagiaku
Sabtu, 05 Oktober 2013
Tetesan Angan Semu
Tetesan Angan Semu
Oleh : Mustika Purnamasari
Tak bosan aku meminta agar Tuhan tetap memberiku hidup
Aku tetap setia menunggu datangnya pagi
Tetap berdiri di tempat biasa untuk menantimu
Menanti senyummu yang berisi segudang harapan untuk bahagiaku
Saat aku masih bisa mencium wangi tubuhmu hari ini, kemarin, esok ataukah lusa
Satu harapan yang tercipta
Memaksaku untuk diam dalam bahagiamu
Seperti biasa, kaku tak tertahan
Semakin meluruh dalam hangat dekapmu
Aku masih bisa merasakannya, semerbak bunga dalam wangi tubuhmu
Rasa itu masih betah hinggap dalam benakku
Kemana aku harus pergi?
Ketika hujan kembali menggoda bumi saat mencekamnya pagi hari itu
Kemudian menghilang saat malam tengadah
Bolehka aku menengok sedikit ke belakang?
Melihat ukiran harapan masa lalu yang membuatku masih bertahan saat ini
Andai Tuhan izinkan, aku ingin meraih bahagiaku
Saat kedua emasku mampu menampakan diri dibalik resahku
Aku tetap ingin melihat bintangku bersinar di malam hari
Tetap mencoba menyinari tiap tiap ruang yang ada di hidupku
Meski hanya di dalam tetesan angan semu
Oleh : Mustika Purnamasari
Tak bosan aku meminta agar Tuhan tetap memberiku hidup
Aku tetap setia menunggu datangnya pagi
Tetap berdiri di tempat biasa untuk menantimu
Menanti senyummu yang berisi segudang harapan untuk bahagiaku
Saat aku masih bisa mencium wangi tubuhmu hari ini, kemarin, esok ataukah lusa
Satu harapan yang tercipta
Memaksaku untuk diam dalam bahagiamu
Seperti biasa, kaku tak tertahan
Semakin meluruh dalam hangat dekapmu
Aku masih bisa merasakannya, semerbak bunga dalam wangi tubuhmu
Rasa itu masih betah hinggap dalam benakku
Kemana aku harus pergi?
Ketika hujan kembali menggoda bumi saat mencekamnya pagi hari itu
Kemudian menghilang saat malam tengadah
Bolehka aku menengok sedikit ke belakang?
Melihat ukiran harapan masa lalu yang membuatku masih bertahan saat ini
Andai Tuhan izinkan, aku ingin meraih bahagiaku
Saat kedua emasku mampu menampakan diri dibalik resahku
Aku tetap ingin melihat bintangku bersinar di malam hari
Tetap mencoba menyinari tiap tiap ruang yang ada di hidupku
Meski hanya di dalam tetesan angan semu
Rabu, 02 Oktober 2013
Kocan
Tak ku sangka bertemu dgn mu membuatku jatuh cinta kepadamu. Seakan diriku terhanyut bila memandang wajah mu. Setelah sekian lama ku bermimpi tentang hadirnya sang pujaan hati. Dan kini kau hadir di hidup ku.
Untaian kata mesra dan seribu puisi cinta yg ku punya tak mampu menyaingi apapun yg engkau berikan kepadaku.
Kau adalah keindahan yg mengisi dunia ku. Memandang mu aku berharap waktu berhenti
Kau adalah jejak yg iringi langkah ku. Kau adalah detak yg iringi jantung ku. Kau adalah air mata yg iringi tangis ku. KAU ADA DI HATIKU
Ku pandang biru nya laut. Awan yg berselimut kabut.
Ku renungkan wajah ku yg berkalut hanya dirimu yg buat ku terpaut.
Rasa sayang yg bgtu dalam. Bahkan teramat dalam
satu hal tanyaku. Boleh kah aku mencintaimu?
Aku mencintai mu apa adanya bagai sungai yg mengijinkan air mengalir mengikuti lekuk tubuh menuju hilir.
Aku mencintai mu apa adanya melebihi kata22 yang mampu terucap tuk yakinkan bahwa aku mencintaimu apa adanya.
Mencintaimu kini dan nanti.
Cinta begitu nyata hadirmu hingga diriku terpesona akan hadirnya.
Kau berikan anugerah terindah disepanjang hidupku. Segenggam cinta dan harapan
Aku selalu berharap menemukan kebahagiaan bersamamu. Seperti janji setia pepohonan yang meneduhkan alam ini. Aku akan setia utk hati yg aku yakini. Tak peduli meski hanya bayang22 semu yang ku dekap. Hanya padamu cinta ingin ku akhiri
Hatiku telah ku sisihkan utk belahan jiwaku. Meski pengorbanan ini kadang terasa menyakitkan tapi inilah takdir Tuhan. Dan aku yakin cinta yg kuperjuangkan akan terasa indah pada waktunya.
Raga ini boleh rapuh. Nyawa ini pun boleh hilang, namun dirimu dihatiku takan tergantikan krn hanya dirimulah hal terindah yang pernah singgah di hatiku.
Aku merasakan kehadiranmu saat tak berdaya dan terpuruk.
Aku merasakan kehadiranmu saat merasa sakit.
Sungguh aku merasakan kehadiranmu di setiap saat hidupku.
Cintaku bukan cinta biasa. Terimalah pengakuan ku
Maaf
Ku masih menanti dirimu membuka matamu disaat tak ingin kau tatap diriku.
Ku masih bediri di depan pintu hatimu disaat tak ingin kau buka untukku.
Ku masih disini disaat kau dengar ku sebut namamu dan masih ku disini sejak tlah kau buang namaku.
Kehampaan ini seringkali menghantui diriku, entah knp hal ini terjadi. Apakah ini yg namanya hukum karma?
aku memang seorang yg hancur hanya dapat menyakiti org lain terutama dirimu yg tlah kudustai dan kulukai.
Sesal ini terlambat kuucapkan. Manusia seringkali menyesal setelah menerima akibatnya.
Bukan maksud ku menjadikan mu boneka yg dapat ku ambil dan kubuang bgtu sja. Bukan maksudku mendustai dan menyakitimu seperti itu.
Kesalahan yg paling bodoh adalah aku yg sudah menyia22kan mu, aku yg sdah mengkhianatimu, aku yg sudah menyakitimu.
Kesalahan yg paling fatal adalah aku yg tak bisa menjaga mu, aku yg tak bisa memberikanmu rasa aman, aku yang tak bisa memberikanmu kasih sayang seperti yg kau mau.
Demi maafmu
Kau boleh lakukan apa saja padaku, kau boleh lakukan apa saja yg kau mau, kau boleh lakukan apa saja yg kau inginkan.
Hidup tanpa maafmu, bagai hidup tanpa udara, menyesakkan dadaku, menyesakkan batinku.
Hanya satu pintaku, maafkan aku ! Kembalilah seperti dulu.
Untaian kata mesra dan seribu puisi cinta yg ku punya tak mampu menyaingi apapun yg engkau berikan kepadaku.
Kau adalah keindahan yg mengisi dunia ku. Memandang mu aku berharap waktu berhenti
Kau adalah jejak yg iringi langkah ku. Kau adalah detak yg iringi jantung ku. Kau adalah air mata yg iringi tangis ku. KAU ADA DI HATIKU
Ku pandang biru nya laut. Awan yg berselimut kabut.
Ku renungkan wajah ku yg berkalut hanya dirimu yg buat ku terpaut.
Rasa sayang yg bgtu dalam. Bahkan teramat dalam
satu hal tanyaku. Boleh kah aku mencintaimu?
Aku mencintai mu apa adanya bagai sungai yg mengijinkan air mengalir mengikuti lekuk tubuh menuju hilir.
Aku mencintai mu apa adanya melebihi kata22 yang mampu terucap tuk yakinkan bahwa aku mencintaimu apa adanya.
Mencintaimu kini dan nanti.
Cinta begitu nyata hadirmu hingga diriku terpesona akan hadirnya.
Kau berikan anugerah terindah disepanjang hidupku. Segenggam cinta dan harapan
Aku selalu berharap menemukan kebahagiaan bersamamu. Seperti janji setia pepohonan yang meneduhkan alam ini. Aku akan setia utk hati yg aku yakini. Tak peduli meski hanya bayang22 semu yang ku dekap. Hanya padamu cinta ingin ku akhiri
Hatiku telah ku sisihkan utk belahan jiwaku. Meski pengorbanan ini kadang terasa menyakitkan tapi inilah takdir Tuhan. Dan aku yakin cinta yg kuperjuangkan akan terasa indah pada waktunya.
Raga ini boleh rapuh. Nyawa ini pun boleh hilang, namun dirimu dihatiku takan tergantikan krn hanya dirimulah hal terindah yang pernah singgah di hatiku.
Aku merasakan kehadiranmu saat tak berdaya dan terpuruk.
Aku merasakan kehadiranmu saat merasa sakit.
Sungguh aku merasakan kehadiranmu di setiap saat hidupku.
Cintaku bukan cinta biasa. Terimalah pengakuan ku
Maaf
Ku masih menanti dirimu membuka matamu disaat tak ingin kau tatap diriku.
Ku masih bediri di depan pintu hatimu disaat tak ingin kau buka untukku.
Ku masih disini disaat kau dengar ku sebut namamu dan masih ku disini sejak tlah kau buang namaku.
Kehampaan ini seringkali menghantui diriku, entah knp hal ini terjadi. Apakah ini yg namanya hukum karma?
aku memang seorang yg hancur hanya dapat menyakiti org lain terutama dirimu yg tlah kudustai dan kulukai.
Sesal ini terlambat kuucapkan. Manusia seringkali menyesal setelah menerima akibatnya.
Bukan maksud ku menjadikan mu boneka yg dapat ku ambil dan kubuang bgtu sja. Bukan maksudku mendustai dan menyakitimu seperti itu.
Kesalahan yg paling bodoh adalah aku yg sudah menyia22kan mu, aku yg sdah mengkhianatimu, aku yg sudah menyakitimu.
Kesalahan yg paling fatal adalah aku yg tak bisa menjaga mu, aku yg tak bisa memberikanmu rasa aman, aku yang tak bisa memberikanmu kasih sayang seperti yg kau mau.
Demi maafmu
Kau boleh lakukan apa saja padaku, kau boleh lakukan apa saja yg kau mau, kau boleh lakukan apa saja yg kau inginkan.
Hidup tanpa maafmu, bagai hidup tanpa udara, menyesakkan dadaku, menyesakkan batinku.
Hanya satu pintaku, maafkan aku ! Kembalilah seperti dulu.
Coretan Tinta untuk BINTANGKU
Oleh Mustika Purnamasari
terpaku dalam hangatnya malam
tak dapat kulawan dengan jemariku
indah, sangat indah
hanya ba ha gi a ..
tak satupun kata yang mampu ku rangkai
bagai mimpi yang nyata
layaknya notasi warna kupu kupu terbang menuju pelangi
bahagia, sangat bahagia
a b c d terangkai menjadi satu ungkapan nyata
mampu mengindahkan hidup rembulan di kegelapan
menerangi indahnya dunia malam itu
semakin terang ... terang dan terang ..
bersinar di seputar jagat raya
seelok ketujuh warna yang tak mampu bersembunyi dari sinar mentari
tenang .. sangat tenang ....
sedikit menipu kehanyutan
melukis gumpalan cinta dalam kehidupanku
semua itu engkau
BINTANGKU !
terpaku dalam hangatnya malam
tak dapat kulawan dengan jemariku
indah, sangat indah
hanya ba ha gi a ..
tak satupun kata yang mampu ku rangkai
bagai mimpi yang nyata
layaknya notasi warna kupu kupu terbang menuju pelangi
bahagia, sangat bahagia
a b c d terangkai menjadi satu ungkapan nyata
mampu mengindahkan hidup rembulan di kegelapan
menerangi indahnya dunia malam itu
semakin terang ... terang dan terang ..
bersinar di seputar jagat raya
seelok ketujuh warna yang tak mampu bersembunyi dari sinar mentari
tenang .. sangat tenang ....
sedikit menipu kehanyutan
melukis gumpalan cinta dalam kehidupanku
semua itu engkau
BINTANGKU !
Nyata Belum Tentu Indah
Kriiiinggg
…. Bel berbunyi menunjukan tepat pukul 7.00 wita. Pagi itu Dina bangun dengan
tergesah gesah sebab ada mata kuliah yang mulai pukul 8.00 wita.
“Aduuuhhh
… jam 7 !!!! telat lagi ke kampusnya … “
Bergegaslah
dia ke kamar mandi dan menyiapkan semuanya untuk berangkat ke kampus. Dina
adalah anak pengusaha kaya yang cukup terkenal. Dia cantik dan cukup pintar
tapi sayang kesombongan dari dirinya itu yang sangat sulit untuk dia kontrol.
Pada
waktu yang sama Dewi juga berangkat ke kampus, biasanya Dewi berangkat bersama
Dina tapi berhubung Dina terlambat jadi Dewi pergi sendiri walaupun belum dapat
kabar dari Dina, tapi Dewi sudah tahu bahwa Dina pasti terlambat “lagi”. Dewi adalah anak Pak Ardy yang bekerja
sebagai satpam di kantor Ayah Dina. Dewi dan Dina adalah teman yang cukup dekat
sejak SMA. Mereka akrab karena Dewi selalu mengajarkan materi-materi yang belum
cukup dimengerti oleh Dina. Dewi memang sangat rendah hati dan lugu oleh karena
itu Dina selalu memanfaatkan semuanya.
Pagi itu
Dewi berangkat mengendarai sepedanya. Kendaraan yang dia miliki hanyalah sepeda
sederhana yang biasa menemaninya ke kampus apabila Dina terlambat bangun. Dewi
tinggal di sebuah kampung yang tidak jauh dari kota. Burung berkicauan dan
embun pagi itu membuat suasana sangat nyaman untuk bersepeda.
“Wi , tlg tnggu aku d parkiran yah ..
sepertinya aku telat, aku gak berani masuk sndirian. Kamu gak mngkin tega liat
aku diusir oleh Bu Dosen sendirian kan? Tlg aku!”
Lagi-lagi
Dina memanfaatkan Dewi. Seperti biasa walaupun Dewi berangkat ke kampus lebih
awal dia tetap ikut terlambat masuk kelas sebab Dina selalu melarang Dewi masuk
kelas lebih dahulu bila dia terlambat. Dewi takut apabila Dina marah dan
melaporkan apa yang dia lakukan ke Ayah Dina dan yang menjadi sasaran adalah
Ayahnya sendiri.
“oke, aku tnggu di tmpt biasa yah!”
Sudah 15
menit keterlambatan Dina tapi dia belum juga muncul sedangkan Bu Dosen sudah
ada di kelas.
“aduh
maaf yah Wi aku telat bangun”
“iya
tidak apa-apa kok. Ayo kita ke kelas siapa tahu masi ada keringanan dari Bu
Dosen”
Tapi saat
itu dosen yang membawakan mata kuliah lumayan tegas dan sangat tidak menyukai
apabila ada mahasiswa yang terlambat. Mau tidak mau mereka harus menerima
hukuman dan keluar dari kelas.
“kita ke
perpus aja yah Din” ajak Dewi memohon.
“gak ah,
ke kantin aja. Aku laper banget nih.” Jawab Dina lebih memohon
“kalau
begitu kamu ke kantin aja, sebentar aku nyusul”
“gak mau.
Ikut aja! aku gak suka makan sendirian. Aku traktir deh …” Dina kembali memohon
Seperti biasanya Dewi tidak bisa
menolak. Dina memang orangnya tidak pelit tapi kesombongannya masih tetap awet.
Merekapun berjalan ke kantin dan tidak sengaja bertemu dengan Budi.
“hai
Budi, dari mana?” tanya Dina penasaran.
“aku dari
rumah. Sebenarnya sih gak ada kuliah pagi tapi aku mau ke perpus dulu” jawab
Budi.
“ke
kantin aja dulu, aku taktir deh. Kamu pasti belum makan kan?” balas Dina
memohon.
“gak usah
Din, aku kenyang kok sudah sarapan dari rumah”
“temenin
aku aja. Gak masalah kan?” Dina lebih memohon lagi.
Karena
tidak tega akhirnya Budi menerima tawaran Dina yang sebenarnya Dewi sendiri
saja sudah cukup untuk menemani Dina.
Budi
adalah teman kampus mereka yang cukup tampan dan terkenal. Dina sangat menyukai
Budi dan Dewi tau itu. Tapi disisi lain Dewi juga sebenarnya suka kepada Budi.
Dewi selalu mengalah untuk Dina jadi apapun itu pasti Dewi selalu merelakan
apapun untuk Dina meskipun itu tentang “CINTA”
Budi anak dari keluarga yang cukup
berada tapi dia tidak sekaya Dina. Tapi Budi cukup pintar. Dia merasa lebih
senang berteman dengan Dewi dibanding Dina karena kemampuan Dewi yang cukup
luas pada bidang pelajaran.
“kamu mau makan apa Budi?” tanya
Dina berharap menerima tawarannya untuk makan bersama walaupun di kantin kampus.
“aku traktir deh, kamu boleh makan sepuasnya apapun yang kamu mau”. Lanjut Dina
“aku sudah kenyang kok Din,” jawab
Budi. “kamu aja Wi, kamu mau makan apa?” tanya Budi kepada Dewi.
“iya, kalian makan apa aja gak
masalah kok”. Tawar Dina kepada kedua temannya.
“Aku mau ke perpus aja Din, kan ada
Budi yang temani kamu. Aku lagi mau nyari buku soalnya” kata Dewi sambil
berdiri dari kursi dan mulai berjalan ke kantin.
“tunggu Wi!!!!” panggil Budi. “aku
ikut yah. Aku juga lagi males banget di kantin”
“eeehhhhh !!!! kalian mau kemana?”
tanya Dina sambil berlari mengejar Budi dan Dewi. “siaaaalllll gagal lagi! Dewi
sangat tidak mendukung !” kata Dina sambil marah.
Dina juga mengikuti mereka ke
perpustakaan. Dia sangat marah melihat keakraban Budi dan Dewi. Dina merasa
sangat kecewa dan dikhianati oleh Dewi karena Dewi tau bahwa Dina sangat
menyukai Budi. Padahal sebenarnya Budi lebih menyukai Dewi.
Sepulang
di rumah Dewi mendapatkan sms dari Dina.
“aku gak suka cara kamu yang kasar seperti
itu. Aku mau kamu jauhin Budi kalau kamu masih mau kuliah!!!!!”
Dewi
sangat terkejut membaca sms dari Dina.
Hari demi
hari Dewi berusaha menjauhi Budi tapi Budi justru lebih mendekatkan diri kepada
Dewi. Dan tetap saja Dewi tidak bisa menjauhinya. Dina sangat marah melihat
keakraban mereka setiap harinya sehingga dia segera menelpon Ayahnya agar
segera memecat Ayah Dewi dan memberhentikan kuliah Dewi.
“ayaaaahhh
… aku gak mau tau ayah harus pecat Pak Ardy sekarang juga!!!” seruh Dina kepada
Ayahnya.
“ada apa
sayang? Ayah lagi di jalan. Pak Ardy memangnya salah apa?” tanya Ayah Dina.
“bukan
pak Ardy tapi Dewi ayah ! dia ituuuu …….
Praaaakkkkkkkk
… suara benturan keras terdengar di balik telpon genggam Dina. Tidak sengaja
Ayah Dina kecelakaan. Dia menabrak pohon sangat keras dan mobilnya terbakar
hingga meninggal dunia. Saat itu Ayah Dina memang sedang pusing karena masalah
perusahaan dan saham keluarganya bangkrut.
Mendengar kabar tersebut Dina menjadi frustasi sebab
semua harta yang Ayahnya miliki disita oleh bank. Keluarganya jatuh bangkrut
dan Dina hanya tinggal sendirian. Setelah kejadian itu Dina tinggal di rumah
Dewi bersama Ayah Dewi.
Semenjak
perusahaan Ayah Dina bangkrut Ayah Dewi bekerja di perusahaan Ayah Budi. Budi
dan Dewi juga akhirnya pacaran karena Budi sudah sejak lama mengagumi Dewi.
Dewi bukan Dina. Dina yang hanya menyombongkan kekayaannya yang tidak permanen
dan itu belum tentu indah, tidak seperti Dewi yang walaupun dia pintar dia
tetap rendah hati. Walaupun dia bukan orang kaya tapi dia senang berbagi.
Nb : Maaf sedikit rumit dan berlebihan. Cerpen ini dibuat secara dadakan dan dengan inspirasi yang sangat kurang :D
Selasa, 01 Oktober 2013
coretan
Ini bukan cerita biasa yang ku
tulis pada layar komputerku. Saat ini aku sedang menikmati salah satu keindahan
alam yang merupakan bukti kekuasaan Tuhan. Sudah lama sebenarnya aku ingin
menulis sesuatu di tempat ini. Tempat yang mampu membuatku sedikit nyaman
dengan beberapa problem yang kuhadapi.
Di sini aku juga bersama salah
satu orang yang membuatku cukup tenang bila bersamanya. Saat dia sedang menutup
mata, saat seperti itu pula aku selalu berdoa agar bisa menikmati hidup
bersamanya. Tapi saat ini aku juga sedang memikirkan dua orang yang merupakan
emas bagiku. Dua orang yang selalu membuatku bahagia ketika melihat wajahnya,
senyuman bahagianya kepadaku saat aku memberi salam dan membuka pintu rumah. Dua
orang yang senantiasa menunggu kabarku, yang khawatir bila tidak mendengar
suaraku, yang menggantungkan sejuta harapan kesuksesan kepadaku. Saat ini aku
juga terbayang seorang yang selalu memberikanku contoh dalam setiap perjalanan
hidupnya dulu. Yang setiap detik selalu membuatku rindu. Yang disetiap ungkapan
doaku pasti ku sisipkan namanya dan kedua orang tuaku. Yang setiap hari selalu
kukirimkan kado Al-fatihah untuknya. Sosok yang juga mengantungkan sejuta
harapan untuk bisa membahagiakan orang tuaku. Yang menitipkan beberapa
keinginan untuk ku. Aku tidak menganggap semua itu beban. Tapi ketika perasaan
itu muncul aku selalu takut menjadi orang yang gagal untuk mereka.
Aku tidak mengerti dengan apa
yang ada saat ini. Aku takut gagal! Dan beberapa tahun kedepan aku harus bisa
menyelipkan title S.Psi, M.Psi di belakang namaku. Aku sendiri juga menggantungkan
sejuta harapan kepada diriku sendiri. Dan seperti manusia secara umum optimis
dan pesimis itu selalu ada di dalam diriku.
Teman, aku sedikit ingin
mengajukan pertanyaan. Bagaimana yang kalian lakukan saat berada pada dua
pilihan sulit? Dan saat kalian memilih salah satu dari kedua itu ternyata
pilihan yang kalian pilih itu salah? Bagaimana ketika pilihan yang kalian pilih
mengorbankan beberapa orang yang sangat penting bagi kalian? Ibu misalnya, ayah
dan teman-teman kalian? Apakah kalian tidak merasa memiliki bergumpal-gumpal beban, berton-ton pikiran
yang membuat kalian selalu merasa bersalah?
hembusan angin di tempat ini,
pepohonan hijau yang menyejukan hati, debu beterbangan, deras ombak di lautan membuatku
semakin menggebuh-gebuhkan rasa syukur kepada sang kuasa. Teman, coba bayangkan
kebahagiaan itu muncul ketika kalian bisa menikmati semua yang Tuhan beri. Tapi
bagaimana bila kalian lemah dan tidak kuat menopang semuanya? Ketika saat ini
kalian tidak sepenuhnya bisa menjadi pribadi kalian seperti biasanya?
Aku juga sebenarnya sedikit heran
dengan semua itu. Tapi yang aku tahu saat ini aku tidak boleh mengeluh. Selalu menanamkan
optimisme dalam diriku. Tetap bersykur dengan apa yang ada pada diriku saat
ini, tetap terbuka dan tidak menutupi kekurangan dalam diriku. Dan yang
terpenting suatu saat aku akan mendapatkan semua yang aku inginkan.
Langganan:
Postingan (Atom)